Jumat, 07 Januari 2011

Pantangan Peri Petai

Di sebuah desa di Negeri Verfera, hiduplah seorang bapak tua bernama Reneroo dengan anak gadisnya, Seyra. Mereka hidup miskin di gubug tua yang hampir roboh. Meskipun kekurangan, Seyra dan ayahnya sangat baik hati dan suka menolong.
Suatu hari, Seyra dan ayahnya pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar dan memanen pohon petai yang ada di kebun mereka. Pagi-pagi sekali mereka berangkat agar hasilnya bisa secepatnya dijual ke kota.
Seusai membantu ayahnya, Seyra beristirahat di bawah pohon petai sambil menunggu ayahnya memanen petai. Ayah Seyra sangat senang karena sepertinya akan mendapat uang banyak dari hasil penjualan petai itu.
Karena lama menunggu ayahnya, akhirnya Seyra bermain-main sambil mengumpulkan petai yang berjatuhan. Ketika sedang mengumpulkan petai, tiba-tiba Seyra mendengar suara orang menangis.
“Ayah dengar suara orang menangis?” Tanya Seyra.
“Ya… Ayah dengar sayup-sayup,” jawab Ayah Seyra makin bingung.
Makin lama, suara tangis itu semakin jelas, Seyra dan ayahnya berusaha mencari asal suara itu. Suara itu sepertinya berasal dari petai yang berjatuhan.
“Tolooong… keluarkan aku dari sini!” teriak suara itu.
Seyra dan ayahnya terperanjat. Suara itu benar-benar berasal dari buah petai tadi.
“Siapa kau? Apa yang bisa kulakukan untuk menolongmu?” Tanya Seyra.
“Tolong, aku adalah ulat petai yang ada di dalam petai ini. Bukalah buah petai ini satu persatu, keluarkan aku!” jerit Ulat Petai.
“Baiklah, tapi aku tidak tahu petai mana yang harus kubuka. Kalau aku buka semuanya, kami tidak dapat menjualnya ke kota. Petai kami tidak laku dijual bila sudah terkupas,” sahut Seyra bingung.
“Tolonglah, aku bisa mati bila terus berada di sini!” jerit Ulat Petai.
Akhirnya, Seyra dan ayahnya mengupas semua petai. Seyra belum juga menemukan ulat petai itu, hingga akhirnya tersisa satu petai. Dengan tegang mereka membuka petai terakhir dan ternyata Ulat Petai itu ada di sana.
Seyra dan ayahnya tersenyum bahagia karena dapat menolong Ulat Petai keluar. Ulat Petai pun sangat bahagia.
“Baiklah, sebagai tanda terima kasihku, aku ingin memberimu tangkai petai ini. Gunakan sesuai keperluanmu. Tangkai petai ini dapat menjadikan gambar apapun menjadi nyata seperti aslinya. Tapi ingat, sihir itu hanya berlaku sekali untuk satu macam benda dan sihir itu dapat hilang dalam sekejap jika kau dan ayahmu melanggar pantanganku,” jelas Ulat Petai.
“Apa pantangannya?” Tanya Ayah Seyra penasaran.
“Bila kau menyakiti hati orang, maka sihir itu akan hilang dalam sekejap,” jelas Ulat Petai.
“Baiklah. Terima kasih Ulat Petai, kami akan mengingat pesanmu,” janji Seyra dan ayahnya bersamaan.
Tiba-tiba, ulat petai itu membesar dan berubah menjadi peri cantik jelita. Dia pun terbang dan melambai pada Seyra dan ayahnya.
Sejak kejadian itu, hidup Seyra dan ayahnya berubah. Mereka selalu pergi ke kota untuk membeli buku-buku dan berbagai gambar indah, mewah dan modern. Mereka tidak lagi bersusah payah mencari dan menjual kayu bakar. Bila ingin sesuatu, mereka tinggal menyihirnya dan jadilah nyata.
Seyra dan ayahnya menjadi orang paling kaya di desa itu. Banyak orang meminta bantuan pada mereka, dan dengan senang hati Seyra dan ayahnya membantunya.
Hingga suatu hari, datanglah seorang wanita dengan pakaian lusuh ke rumah Seyra yang megah. Wanita itu ingin sekali bertemu dengan ayah Seyra.
“Izinkanlah aku bertemu ayahmu. Aku ingin meminta maaf,” pinta wanita itu.
“Maaf, ibu siapa?” Tanya Seyra ramah.
Belum sempat wanita itu menjawab, Ayah Seyra keluar dengan wajah murka.
“Mau apa kau kemari? Sudah puaskah kau menelantarkan kami? Sekarang, kau ingin mengemis maaf padaku! Maaf, semua sudah terlambat.” Sahut Ayah Seyra dengan kasar.
Wanita itu pun menangis dan akhirnya pergi. Belum sempat Seyra sadar dari kagetnya, tiba-tiba sesuatu telah berubah.
“Ya Tuhan, kemana rumah kita yang mewah?” jerit Ayah Seyra histeris. Seyra pun masih tercengang melihat perubahan yang terjadi dalam sekejap mata itu.
“Ayah, sepertinya kita telah melanggar pantangan Ulat Petai,” sahut Seyra dengan suara lemah.
Ayahnya menunduk lemas. Dia menyesal dengan semua yang telah dilakukannya.
“Ayah emosi, Ayah khilaf! Semua itu karena Ayah dendam padanya, Nak!” sahut Ayah terbata.
“Mari kita cari dia, Nak. Dia adalah ibumu. Kita minta maaf padanya. Ayah tak peduli kita hidup miskin lagi, asalkan keluarga kita bersatu kembali,” sahut Ayah Seyra menyesal.
Hari demi hari mereka mencari Ibu Seyra. Suatu hari mereka menemukan seorang wanita tengah tidur pulas di bawah pohon rindang. Ternyata wanita itu adalah Ibu Seyra yang mereka cari selama ini.
Ayah Seyra segera mengajak istrinya itu kembali dan menceritakan semua yang terjadi. Termasuk tentang harta mereka yang telah lenyap begitu saja. Tetapi dengan tulus, Ibu Seyra tidak menyesalkan hal itu. Sesungguhnya Ibu Seyra ingin minta maaf pada Ayah Seyra. Karena dulu ia telah meninggalkan Ayah Seyra karena Ayah Seyra miskin, tidak bisa memberi kemewahan padanya. Kini, Ibu Seyra ingin kembali ke rumah gubuk mereka yang mungil tapi berisi berjuta bahagia. Ayah, Ibu serta Seyra bekerja keras lagi untuk membangun hidup mereka dari awal. Dengan kebersamaan dan kerja keras akhirnya mereka berhasil membangun istana mungil yang cantik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar